Setelah media sosial merajai kehidupan

Saat ini untuk menemukan seseorang menggunakan media sosial itu sangat jarang. Bahkan orang yang berusia 70 tahun juga menggunakan media sosial, paling minimum aplikasi Whatsapp.

Semua elemen kehidupan memang dimudahkan dengan bermunculannya berbagai jenis aplikasi media sosial. Pekerjaan mengirim surat yang dulu harus butuh berhari-hari kini bisa dalan hitungan detik sampai ditangan si penerima, entah melalui email, WA, atau aplikasi lainnya.

Pekerjaan survey yang dulu harus membuat berlembar-lembar kertas, menemui beberapa orang yang memiliki kompeten dibidangnya, dan butuh tenaga dan waktu yang besar. Sekarang bisa lewat beberapa link di internet yang bisa dikirim ke orang yang dituju dan dalam beberapa hari maka hasil survey sudah bisa diselesaikan. Mudah bukan?...

Namun saya disini bukan menyoroti tentang mudah suatu pekerjaan dengan adanya media sosial. Lebih ke aspek melihat kehidupan nyata yang dipengaruhi oleh kecemburuan dari aktivitas manusia lain yang mengekspos dirinya di media sosial. Kegiataan-kegiataan yang menyenangkan tentunya bahkan tak jarang kegiataan sederhana pun direkam dan upload ke internet.

Contohnya pergi makan ke restoran, kumpul bareng teman-teman, jadi mentor disuatu acara, menonton film favorit, bahkan seperti menunggu kepastian dari kamu untuk datang lamaran kerumah Eaaa....


Hari-hari di penuhi oleh rutinitas mengakses media sosial seperti layaknya kebutuhan primer padahal itu hanya kebutuhab tersier. Berawal dari isu-isu yang terbaru, kemudian mencoba mencarinya dengan sekali pencarian dan mensharenya tanpa mendalaminya lebih dalam. Hal ini dilakukan agar kita dianggap selalu up to date dan selalu ingin menguasai pembicaraan dalam suatu komunitas atau terhadap pencitraan ke media sosial. Jika tidak melakukan itu maka diri kita bisa dianggap tidak layak sebagai teman bicara dalam hal-hal yang terbaru.

Selain itu salah satu hal yang diminati oleh kaum muda yaitu kegiataan traveling atau jalan-jalan, menikmati kuliner dan ikut kegiataan voluntering. Hal-hal itu kadang menyita waktu dan uang sedangkan itu tidak memberi pengaruh maksimal untuk perjalanan hidupnya kecuali dia adalah seorang influencer.

Bukan hanya anak diperkotaan yang mencoba dan menikmati kuliner khas Indonesia maupun LN. Namun anak pendesaan juga melakukan hal yang sama, mereka ingin diakui dengan datang ketempat yang punya rekomendasi atau hits dalam beberapa waktu belakangan.

Kembali ke realita, apakah dengan ikut-ikutan tahu, mengekspos diri di media sosial, ikut traveling, mencicipi kuliner, ikut voluntering trus upload ke medsos menjadikan kehidupan ini bahagia???....

Saat semua orang melakukan itu dan kita akhirnya tidak menonjolkan apapun didalam situas itu, yang terjadi adalah kekecewaan diri. Mengapa menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang tidak penting? Ya memang semua yang kita lakukan dahulu punya sesuatu yang jadi pembelajaran buat kita hingga membentuk kepribadian kita saat ini. Namun apakah hal ini tetap dilanjutkan sehingga tidak dianggap katro??...

Lebih baik menjadikan hidup ini tenang dengan perenungan tiap pagi dan malam. Memahami arti kehidupan yang sebenarnya dan mencoba melakukab keduabelas sifat-sifat roh Allah sehingga tidak akan ada kekecewaan dalam hidup ini. Bahkan gangguan dari media sosial tidak membuat kecewa dan terpencilkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermain dalam Kawasan Pontianak

Meluapnya Rasa Iri

Tidak Ada yang Unik Tapi...