Meluapnya Rasa Iri

Pernah merasakan perasaan iri melihat teman sebaya punya kehidupan yang lebih baik dari kondisi kita. Yang dimaksud disini bukan segi materi namun dilihat dari segi kemampuan, keinginan, dan pencapaian suatu kondisi yang memang bisa dikatakan baik.

Bila dimisalkan
Ketika kita masih kuliah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan yang lain sudah miliki pekerjaan dengan jabatan bagus.

Ketika kita masih mengurusi karir yang lain sudah berkeluarga lengkap dengan hadirnya buah hati mereka.

Ketika kita masih belajar menguasai bahasa inggris dan yang lain sudah menguasai lebih dari 3 bahasa selain bahasa ibu.

Dan jika dimisalkan yang lain pun, banyak rasa iri yang tak terhingga. Sebenarnya bukan rasa iri ingin menjatukannya melainkan rasa bangga karena sebaya pun sudah mencapai hal-hal yang baik adanya.

Begitu banyak nasehat bijak dari para filosofi atau perkataan yang tegas dari para praktisi kehidupan mengenai hal tersebut. Semua pencapaian itu butuh suatu pengorbanan yang orang lain tidak tahu bahkan tidak perlu tahu.

Mungkin salah satu cara yang bisa diterapkan itu fokus terhadap keinginan dan kemampuan sendiri. Kesannya egosentris sih... Tapi semua orang bukannya dilahirkan sejak awal memiliki sifat ego.

Ada pepatah "Jadilah unik atau berbeda dari yang lain" .
Saya pernah menjadikan itu suatu filosofi untuk hidup saya tapi apa semua itu cukup. Bahkan kita sendiri tidak tahu unik kita itu ada atau tidak ada juga di orang lain.

Apakah rasa iri ini juga sebagai bagian dari pencarian jati diri? Apakah usia 22 tahun masih belum cukup pencarian jati diri? Bahkan saya dengar dan baca pun bahwa usia 50 tahun terkadang mereka tidak tahu betul bagaiman jati dirinua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermain dalam Kawasan Pontianak

Tidak Ada yang Unik Tapi...