Bermain dalam Kawasan Pontianak


Apakah kalian sering mendengar istilah khatulistiwa?
Ya pasti sering mendengar dong.
Apalagi kita yang tinggal di Indonesia sehingga akrab mendengar istilah itu. Indonesia merupakan salah satu daerah yang dilalui oleh garis khatulistiwa sehingga memiliki iklim tropis.

Secara geografis dijelaskan bahwa garis khatulistiwa (equator dalam bahasa inggris) merupakan garis imajiner yang digambarkan di tengah-tengah planet bumi untuk membagi bumi menjadi dua bagian yaitu bagian utara dan selatan dan terbentang dari timur ke barat pada permukaan bumi.

Ada enam provinsi yang dilalui oleh garis khatulistiwa yaitu Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku dan Papua


Mengapa ada garis khatulistiwa?
Ada sebuah garis imajiner atau khayal yang membagi bumi yang disebut dengan istilah garis bujur dan garis lintang. Garis lintang membentang secara horizontal dan garis bujur secara vertikal.

Titik awal dalam mengukur garis lintang disebut dengan istilah equator. Daerah ini terletak di nol derajat dan sebagai pemisah antara belahan bumi utara dan selatan. Nol derajat garis bujur dimulai dari Greenwich yang disebut meredian utama.

Kata Khatulistiwa berasal dari bahasa Latin”aequare” yang berarti untuk membuat sama. Khatulistiwa adalah titik pembagi bumi menjadi bumi belahan utara dan selatan sedangkan garis khatulistiwa merupakan garis khayal yang membelah bumi menjadi dua bagian. Salah satu adanya khatulistiwa sebagai alat navigasi


Apa keistimewaan daerah yang dilalui khatulistiwa?
Bumi memiliki orbit dan berotasi pada porosnya sehingga khatulistiwa tidak miring menuju atau menjauh dari matahari. Hal ini menyebabkan bahwa tempat di sepanjang khatulistiwa tidak memilki hari lebih panjang atau pebih pendek, dan juga tidak memiliki musim seperti di bumi bagian belahan utara atau bumi bagian selatan.


Apa yang menarik dari daerah  dilalui khatulistiwa?

Beberapa hal yang membuat kawasan yang dilalui oleh garis khatulistiwa sering didatangi pengunjung baik lokal maupun mancanegara bisa dilihat seperti

Fenomena hilangnya bayangan saaat kulminasi
Hilangnya bayangan memiliki istilah kulminasi atau keadaaan titik paling tinggi dari benda langit dalam hal ini matahari. Kejadian ini terjadi setidaknua dua kali dalam setahun yakni 21-23 Maret dan 21-23 September. Kondisi kulminasi ini terjadi rentang jam 11.30 sampai dengan 12.30. Saat berdiri di lokasi ini bayangan pun tidak tampak dengan kata lain matahari sudah benar-benar berada dia atas kepala. Hal ini menandakan pula musim gugur untuk belahan bumi lainnya.

Telur pun bisa berdiri tegak
Telur yang dapat berdiri dengan sempurna itu disebabkan karena adanya medan magnet gravitasi yang cukup kuat di area tugu tersebut. Hal ini sudah banyak dibuktikan oleh banyak orang terutama saya. Namun saya gagal membuat telur ayam berdiri dengan sempurna padahal saat saya mengambil telur itu dalam kondiri berdiri. Ada beberapa bapak yang mencoba dan berhasil, sehingga saya ambil kesimpulan bahwa untuk membuat hal itu perlu trik dan kesabaran.

Adanya Festival Kulminasi
Pemerintah setempat selalu mengadakan festival pada setiap tahunnya yang dinakan Festival Kulminasi. Sebuah festival yang diselenggarakan untuk memperkenalkan keunikan lokal. Acara tersebut menandakan bahwa dikota tersebut memiliki titik kulminasi dan tentunya sangat istimewa sekaligus menjadi daya tarik banyak wisatawan.


Kota manakah yang dilalui oleh di garis khatulistiwa?
Sejak kelas 5 SD yang saya sudah mengetahui bahwa Indonesia itu termasuk daerah Tropis. Tahun 2000an ketika saya masih menempuh pendidikan dalam sekolah dasar, sumber pengetahuan yang wajib ada seperti di buku paket (waktu itu saya menyebutnya buku cetak, tahun 2018an sebutannya buku besar), RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum lengkap), ATLAS, dan LKS (Lembar Kerja Siswa). Yah namanya juga anak SD pasti lebih suka melihat yang halaman yang penuh gambar, berwarna, dan banyak ilustrasi. 

Dalam semua sumber pengetahuan itu yang terus saya ingat salah satunya bahwa Indonesia termasuk wilayah yang memiliki iklim tropis sehingga hanya terjadi dua musim selama setahun yaitu musim kemarau (musim yang memiliki intensitas panas hingga kulit cepat menghitam, rambut menjadi kemerahan, kepala berkeringat hingga masuk kedalam otak seakan-akan cairan dalam otak medidih itu karena saking panas) dan musim penghujan (biasanya sekitar bulan November sampai Maret sehingga payung selalu ada didalam tas walau cuaca terlihat cerah saat itu). Kondisi ini terkadang menyebabkan iri hati pada negara lain yang memiliki musim lain seperti musim semi, musim gugur dan musim salju.

Tapi setelah mulai bertambah usia semakin menyadari ternyata enak loh tinggal di daerah Tropis, kalau musim panas masih bisa pergi keluar rumah dan musim penghujan yang suhunya dingin dan paling nyaman jika tetap diatas kasur. Sementara di luar Indonesia khususnya daerah yang jauh dari garis khatulistiwa memiliki suhu panas dan dingin yang ekstrim sehingga ada larangan keluar rumah jika kegiataan itu dianggap tidak penting. 

Ada beberapa daerah dan kota di Indonesia yang dilalui oleh garis khatulistiwa dari ujung barat sampai ujung timur seperti Kota Bonjol, Lintas Riau Sumbar, Riau, Kepulauan Batu, Kepulauan Lingga, Kota Pontianak, Kota Bontang, Sulawesi Tengah, Kepulauan Kayoa dan Halmahera Selatan, Pulau gebe dan terakhir daerah Pulau Amberi. Lebih jelasnya dapat diakses di halaman web ini https://borneochannel.com/kota-yang-dilalui-garis-khatulistiwa


Bermain di Tugu Khatulistiwa 

Yap sedikitnya sudah tahu bahwa garis khatulistiwa itu menjadi ciri khas dari kota Pontianak. Namun tak lengkap rasanya jika belum berkunjung ke Tugu Khatulistiwa yang dibanggakan oleh pemerintah dan masyarakat lokal.

Awal perjalanan

Saya mengunjungi daerah ini tepatnya tanggal 4 Mei 2018. Saya bersama adik sama berangkat pukul 9.00 WIB dari kota Pontianak menuju ke daerah Siantan yang merupakan daerah dimana terletak Tugu Khatulistiwa sebagai ciri khas dari kota Pontianak. Perjalanan yang kami tempuh melalui daerah yang sering dilalui truk-truk besar, mobil Pertamina, dan beberapa kendaraan roda empat dan dua. Kami menggunakan sepeda motor sehingga perjalanan bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Kondisi lingkungan dari tugu ini sangat sederhana dan letaknya memang bisa dilihat dari dipinggir jalan khatulistiwa sehingga memudahkan para wisatawan mengetahu letak lokasinya.

Parkiran Tugu

Parkirannya masih dalam proses perbaikan dimana kondisinya masih bertanah kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi kami hanya melihat 4 kendaraan bermotor yang parkir di kawasan tersebut. Masuk ke dalam kawasan ini tidak dipungut biaya, hanya bagi yang membawa kendaraan bermotor dikenai biaya parkir Rp 2000 untuk roda dua dan Rp 4000 untuk roda empat.

Bagian Luar Tugu

Monumen Tugu Khatulistiwa ini diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat pada 21 September 1991 oleh Gubernur Parjoko Suryokusumo sehingga kawasan ini dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 Tentang  Benda Cagar Budaya Pasal 26. 

Ketika memasuki kawasan ini terlihat tugu besar berada diatas kubah dengan tulisan plat anak panah yang menunjukkan letak Tugu Khatulistiwa pada garis bujur Timur. Ternyata tugu besar itu hanya duplikat dari yang ali dimana bentuknya lebih kecil 5 kali lipat.

Dokumentasi Kubah dan Duplikat Tugu Khatulistiwa (Bagian luar Tugu)

Monumen Tugu 

Ketika memasuki bangunan yang beratap kubah maka akan terlihat Tugu Khatulistiwa yang asli. Tugu ini dibangun menggunakan kayu belian (kayu besi khas Kalimantan Barat) yang tingginya mencapai 4,4 meter, jauh sekali dari tinggi saya hanya 162 cm. Pada bagian atas tugu terdapat anak panah yang menunjukkan arah utara pada ujung panah dan arah selatan pada bagian ekor dari anak panah. Lalu ada penambahan dua lingkaran di bagian atas tugu secara vertikal dan horizontal (menurut pendapat saya seperti melambangkan bentuk bumi yang bulat).

Dokumentasi Tugu Khatulistiwa

Bagian Lain dalam Monumen 

Didalam juga terdapat banyak foto yang menggambarkan perkembangan monumen tugu ini dari awal terbentuk tahun 1928 hingga sekarang. Ada begitu banyak gambar yang menjelaskan pula mengenai peristiwa kulminasi matahari dan sejarah awal mengenai garis khatulistiwa itu sendiri.

Dokumentasi kondisi dalam bangunan monumen

Penjaga dari monumen ini ada dua orang jadi begitu masuk kita harus mengisi buku tamu sebagai bukti bahwa kita pernah mengunjungi tempat wisata ini. Kita boleh bebas melihat gambar dan berfoto ria didalamnya selama tidak merusak, mengotori dan menggangu ketertiban umum saat berada didalamnya.

Saat berkunjung pun hanya sekitar 6 orang saja yang berada didalam gedung itu dan kami memang tidak mendapat pengarahan dan penjelasan mengenai gambar-gambar yang terpampang begitu indah dan mengandung banyak sejarah tersebut. Mungkin jikalau ada pengarah yang menceritakan mengenai sejarah didalamnya maka begitu banyak orang yang terkagum melihat bahwa begitu penting sejarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini sehingga ketika para wisatawan itu pulang dan bercerita mengenai kondisi disana maka makin banyak rasa penasaran yang timbul. Hal ini juga bisa berdampak semakin tingginya jumlah pengunjung yang datang dan membawa keuntungan tersendiri bagi penduduk lokal ketika menjual makanan, minuman, dan aksesoris khas Pontianak.

Dokumentasi maket blue print mengenai rencana pembangunan wisata khatulistiwa

Bagi yang pertama kali berkunjung ke daerah Kalimantan Barat maka kalian akan melihat banyak spanduk-spanduk dan iklan-iklan dipinggir jalan yang mengandung kalimat khatulistiwa. Saat itu saya terheran-heran karena kata-kata itu seakan-akan sudah mendarah daging dan menjadi ciri khas dari daerah ini. Oleh karena itu Pemerintah Kota Pontianak berencana serius untuk mengembangkan wilayah khatulistiwa ini sebagai salah satu tempat wisata yang layak dikunjungi baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

Tugu khatulistiwa ini menjadi salah satu objek yang direnovasi oleh Pemerintah dengan melakukan pengembangan daerah sekitar tugu dengan taman kota dan area publik.  Pada penataan ulang tugu ini, akan dibangun beberapa fasilitas penunjang wisata dimulai dari hotel, restoran, waterpark, pusat souvenir, taman dan fasilitas lainnya yang akan menjadikan kawasan tugu ini menjadi objek wisata yang sangat menarik.

EPILOG

Penulisan saya ini adalah yang pertama mengenai daerah yang dilalui garis khatulistiwa ini merupakan bentuk kecintaan saya baru masih banyak hal-hal yang bisa digali dari Indonesia dari segi sejarahnya bahwa Indonesia merupakan tanah air yang patut kita banggakan dan harumkan selagi masih muda dan  punya tenaga serta waktu. Semoga tulisan saya ini bisa membuat kita bangga bisa menjadi bagian dari Indonesia kita tercintanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meluapnya Rasa Iri

Tidak Ada yang Unik Tapi...