Tidak Ada yang Unik Tapi...
Ketika masa-masa kecil yang terlintas hanya pikiran bermain bermain belajar, itu sangat menyenangkan. Tidak pernah merasa canggung untuk berlari, menyentuh sesuatu yang baru, menangis, bahkan bisa bertanya tentang apapun.
Namun karena ada bimbingan orang tua yang mengajari kita bahwa hidup itu bukan hanya bermain dan bertanya. Kita harus mau belajar, mencari tahu sendiri, bahkan tidak bisa mempunyai sesuatu dengan cuma-cuma.
Contoh kalau makan tidak boleh ada sisa makanan disekitar kita, jika ada dihitung perbutir nasi seharga 100 rupiah. Maka kami makan bersih sehingga tidak ditagih dan mencari sisa dari makanan disekitar yang uangnya bisa kita simpan beserta sekitar kita langsung bersih seketika karena tiap selesai makan selalu operasi semut.
Hal-hal kecil demikian memang harus ditanamkan orang tua sehingga anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tanggap dan peka terhadap lingkungan.
Seiring bertumbuh dewasa ada masalah lagi yang muncul bahwa kita harus dituntut bersikap sopan santun dan berkarisma, perlu juga menjadi unik untuk dapat menjadi poin penting ketika melamar kerja, ikut organisasi, melamar beasiswa, bahkan ketika menjadi ketua dalam arisan keluarga besar.
Bicara tentang unik, itu hanya tentang waktu. Ketika kamu memiliki sesuatu yang beda dari kebanyakan orang maka kmu disebut unik. Namun ketika kamu tidak mengembangkannya terus menerus, maka akan banyak orang lain yang meniru bahkan melakukan lebih baik darimu. Pada akhirnya kmu bukan lagi unik melainkan sesuatu yang lama dan usang.
Unik itu juga relatif, sama seperti kecantikan dan ketampanan. Hal tersebut tergantung dari sisi orang yang melihat dan mendeskripsikan.
Menurut saya didunia ini tidak ada yang unik, yang ada selalu berpikir kreatif, mau mencoba hal-hal baru (bukan hanya wacana) dan peka terhadap kondisi sekitarnya sehingga kita bisa membawa perubahan yang lebih baik.
Perubahannya bukan hanya untuk menjadi orang terkenal melainkan membuat orang lain untuk ikut berubah menjadi lebih baik.
Uuppsss... Jangan lupa bahagia, karena kelak dirimu sendiri yang bertanggung jawab atas kegagalanmu maupun keberhasilanmu
Namun karena ada bimbingan orang tua yang mengajari kita bahwa hidup itu bukan hanya bermain dan bertanya. Kita harus mau belajar, mencari tahu sendiri, bahkan tidak bisa mempunyai sesuatu dengan cuma-cuma.
Contoh kalau makan tidak boleh ada sisa makanan disekitar kita, jika ada dihitung perbutir nasi seharga 100 rupiah. Maka kami makan bersih sehingga tidak ditagih dan mencari sisa dari makanan disekitar yang uangnya bisa kita simpan beserta sekitar kita langsung bersih seketika karena tiap selesai makan selalu operasi semut.
Hal-hal kecil demikian memang harus ditanamkan orang tua sehingga anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tanggap dan peka terhadap lingkungan.
Seiring bertumbuh dewasa ada masalah lagi yang muncul bahwa kita harus dituntut bersikap sopan santun dan berkarisma, perlu juga menjadi unik untuk dapat menjadi poin penting ketika melamar kerja, ikut organisasi, melamar beasiswa, bahkan ketika menjadi ketua dalam arisan keluarga besar.
Bicara tentang unik, itu hanya tentang waktu. Ketika kamu memiliki sesuatu yang beda dari kebanyakan orang maka kmu disebut unik. Namun ketika kamu tidak mengembangkannya terus menerus, maka akan banyak orang lain yang meniru bahkan melakukan lebih baik darimu. Pada akhirnya kmu bukan lagi unik melainkan sesuatu yang lama dan usang.
Unik itu juga relatif, sama seperti kecantikan dan ketampanan. Hal tersebut tergantung dari sisi orang yang melihat dan mendeskripsikan.
Menurut saya didunia ini tidak ada yang unik, yang ada selalu berpikir kreatif, mau mencoba hal-hal baru (bukan hanya wacana) dan peka terhadap kondisi sekitarnya sehingga kita bisa membawa perubahan yang lebih baik.
Perubahannya bukan hanya untuk menjadi orang terkenal melainkan membuat orang lain untuk ikut berubah menjadi lebih baik.
Uuppsss... Jangan lupa bahagia, karena kelak dirimu sendiri yang bertanggung jawab atas kegagalanmu maupun keberhasilanmu
Komentar